Dituduh Kurang Iman karena Memiliki Masalah Kesehatan Mental

Foto: Pexels/Amirmohammad Taheri


Memiliki masalah kesehatan mental sudah menjadi hal berat yang harus dilalui oleh para penderitanya. Bukannya mendapatkan dukungan, justru beban mereka bertambah dengan tuduhan-tuduhan tidak bertanggung jawab yang menyatakan bahwa mereka adalah salah satu hamba yang kurang taat kepada Tuhannya, sehingga membuat mereka depresi, stres, kehilangan jati diri, atau semacamnya.

Tuduhan-tuduhan tersebut bukannya membantu, tetapi justru makin memperparah keadaan penderitanya. Contoh kasusnya adalah seperti yang dialami oleh seorang pelajar bernama Dina. Ia tidak memiliki teman bercerita, bahkan keluarga tidak mengetahui kondisinya.

Namun, di tengah itu semua, stigma negatif di masyarakat, seperti kurang iman atau orang yang mencari bantuan kesehatan jiwa itu gila atau hanya sekadar untuk mencari perhatian, berkembang di masyarakat. Sebenarnya, Dina pun telah berjuang sangat keras, tetapi memang ada fase-fase di mana dirinya depresi, bahkan berpikir untuk bunuh diri.

Oleh sebab itu, inilah pentingnya menjauhi atau mengurangi stigma negatif kepada mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental. Sementara itu, dijelaskan oleh Psikolog Klinis, Rena Masri bahwa penyakit gangguan mental tidak serta merta muncul akibat seseorang itu kurang iman atau jauh dari agama. Rena menyatakan bahwa ada tekanan-tekanan tertentu yang menyebabkan munculnya tekanan, depresi, dan lainnya.

“Religiusitas memang betul mempengaruhi perasaan nyaman, perasaan tenang, tapi penyebabnya bukan hanya itu, tapi ada tekanan-tekanan tertentu di mana tekanannya itu lebih berat dibandingkan kapasitas kita untuk menghadapi tekanan itu. Akibatnya, memunculkan tekanan, depresi, dan lainnya,” ujarnya.

Hal ini juga dipertegas kembali oleh Dr. Jiemi Ardian dalam akun twitternya @jiemiardian. Dr. Jiemi menyatakan bahwa gejala depresi atau depresi bukan karena lemah iman. Namun, justru karena lemahnya dukungan sosial yang menganggap orang yang depresi itu sakit jiwa atau kurang bertakwa, dan kurang gigih. Pentingnya dukungan sosial dibuktikan juga oleh Dina.

Dalam ceritanya, dituliskan bahwa ketika percobaan bunuh dirinya gagal, ia mencoba bangkit dan mencari pertolongan. Akhirnya, secercah harapan itu muncul ketika ada seorang teman yang berusaha menghalanginya. Selain itu, ayahnya yang dari awal juga seperti masyarakat pada umumnya, yaitu mempunyai stigma negatif terkait gangguan kesehatan mental pun ikut tersadar.

Ayahnya Dina diedukasi oleh dokter, sehingga ia pun bisa menerima kondisi anaknya dan saat ini berusaha memerhatikan anaknya. Sampai saat ini, ayahnya menjadi orang yang sangat perhatian terhadap Dina, bahkan mengikuti grup kepedulian bipolar. Dina pun menuliskan bahwa support keluarga memang sangat penting.

Kemudian, penelitian oleh American Psychological juga menunjukkan hubungan sosial dan berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan, di mana dukungan sosial yang buruk bisa dikaitkan dengan depresi dan kesepian dan telah terbukti mengubah fungsi otak. Sementara itu, apabila kita memiliki support system yang baik, maka hal itu juga akan berdampak positif pada kesehatan mental dan fisik.

Oleh sebab itu, dari penjelasan ini, kita menjadi memahami hal apa yang perlu kita lakukan ketika mengetahui ada kenalan kita, baik itu teman, saudara, anak, orang tua, atau lainnya memiliki gangguan kesehatan mental. Upaaya yang bisa kita lakukan adalah terus memberikan dukungan sosial kepada mereka.

Kita bisa mendengarkan cerita mereka, selalu ada untuk mendampingi, bahkan kalau bisa mengajaknya ke psikolog dengan cara lembut dan tanpa menghakimi apabila memang perlu ditangani secara profesional. Selain itu, jauhkan diri dari stigma negatif. 

Tahan diri kita untuk berasumsi penyebab mengapa mereka menderita gangguan kesehatan mental. Tugas kita hanyalah membantu mereka agar bisa bangkit dengan  membuat mereka percaya bahwa memiliki gangguan kesehatan mental bukanlah kesalahan dan tidak perlu takut orang-orang akan menjauhinya karena kita akan selalu ada untuk mereka.

Komentar